MAKALAH TASAWUF
SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF
DOSEN PEMBINA :
Riris Luthfi , M.Pd.I
Riris Luthfi , M.Pd.I
Tafta Zani R
(13650127)
Agus Luqmanul Khakim (13650128)
Abdan Syakuro (13650129)
JURUSAN
TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2014
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2014
BAB I
Menurut Anwar (2010: 308) hakikat
tarekat yang sebenarnya adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. melalui
ajaran-ajaran tasawuf yang dilakukan dibawah bimbingan seorang guru atau syekh. Apabila
dihubungkan antara tasawuf dan tarekat, hubungan yang ada di dalamnya adalah
tasawuf merupakan usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. dan tarekat
merupakan jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada
Allah SWT.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apakah
itu tarekat dalam ilmu tasawuf?
2.
Hubungan
tarekat dengan tasawuf ?
3.
Bagaimana sejarah perkembangan tarekat?
4.
Apa
saja Aliran-Aliran tarekatdalam tasawuf?
1.3 Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui arti sebenarnya dari sebuah sebuah tarekat
2. Untuk mengetahui sejarah dan
perkembangan tarekat
3. Agar dapat mendeskipsikan sejarah dan perkembangan tarekat
4. Untuk menambah wawasan kita tentang ilmu tasawuf
BAB II
Pembahasan
2.1 Pengertian Tarekat
Tarekat berasal dari bahasa
Arab yaitu : طرق, yang
berarti
"jalan" atau "metode", dan mengacu pada
aliran kegamaan tasawuf atau sufisme dalam Islam. Tarekat secara konseptual terkait dengan ḥaqīqah
atau "kebenaran sejati", yaitu cita-cita ideal
yang ingin dicapai oleh para pelaku aliran tersebut. Seorang penuntut ilmu
agama akan memulai pendekatannya dengan mempelajari hukum Islam, yaitu praktik eksoteris atau duniawi Islam,
dan kemudian berlanjut pada jalan pendekatan mistis keagamaan yang berbentuk ṭarīqah.
Melalui praktik spiritual dan bimbingan seorang pemimpin tarekat, calon
penghayat tarekat akan berupaya untuk mencapai ḥaqīqah (hakikat, atau
kebenaran hakiki).
Arti
tarekat menurut para ahli :
1.
Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali
(740-816 M), tarekat ialah metode
khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala
melalui tahapan-tahapan/maqamat.
2. Menurut
Jaiz (2005 : 119) tarekat berasal dari bahasa arab yaitu thariqah yang artinya
jalan. Kemudian mereka maksudkan sebagai jalan menuju tuhan; ilmu batin,
tasawuf.
3. Sedangkan
menurut Mustofa (2010: 280), istilah tarekat berasal dari kata At-Tariq (jalan)
menuju kepada hakikat, atau dengan kata lain pengalaman syariat.
4. Menurut
Huda (2008: 61) secara istilah, tarekat mengandung arti jalan menuju Allah guna
mendapatkan ridha-Nya dengan cara manaati ajaran-Nya.
5. Menurut
L. massignon dalam buku Mustofa (2010: 281) yang pernah mengadakan penelitian
terhadap kehidupan tasawuf dibeberapa Negara islam, menarik suatu kesimpulan
bahwa istilah tarekat mempunyai dua macam pengertan, yaitu:
a. Tarekat yang diartikan sebagai
pendidikan kerohanian yang sering dilakukan oleh orang-orang yang
menempuh kehidupan tasawuf, untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang
disebut ”Al-Maqamat” dan “Al-Ahwal”. Pengertian yang seperti ini, menonjol
sekitar abad ke-IX dan ke-X Masehi.
b. Tarekat yang diartikan sebagai
perkumpulan yang didirikan menurut aturan yang telah dibuat oleh seorang Syekh
yang menganut aliran tarekat tertentu. Maka dalam perkumpulan itulah seorang
Syekh yang menganut suatu aliran yang mengajarkan Ilmu Tasawuf menurut aliran
tarekat yang dianutnya, lalu diamalkan bersama dengan murid-muridnya.
Pengertian seperti ini, menonjol sesudah abad ke-IX Masehi.
2.2 Hubungan
Tarekat Denagan Tasawuf
Didalam ilmu tasawuf, istilah
tarekat tidak saja ditunjukan kepada aturan dan cara-cara tertentu yang
digunakan oleh seorang syekh tarekat dan bukan pula terhadap klompok yang
menjadi pengikut salah seorang syekh tarekat. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa tasawuf itu secara umum adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah,
sedangkat tarekat adalah cara dan jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya
mendekatkan diri kepada allah.
2.3 Sejarah Perkembangan Tarekat
Ditinjau dari segi historisnya, kapan dan tarekat mana yang mula-mula
timbul sebagai suatu lembaga, sulit diketahui dengan pasti. Namun menurut
Asy-Syibi dalam buku Anwar (2008: 207) mengungkapkan tokoh yang pertama kali
memperkenalkan sistem thariqat (tarekat) adalah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani di
Baghdad, Sayyid Ahmad Ar-Rifa’I di Mesir dengan tarekat Riffa’iyah, dan Jalal
Ad-din Ar-Rumi di Parsi.
Tarekat pada awal kemunculannya memang dibawa oleh ketiga tokoh diatas,
menurut teori lain tentang sejarah kemunculan tarekat yang dikemukakan oleh
John O Voll dalam buku Anwar (2008: 208) adalah:
Ia menjelaskan bahwa penjelasan mistis terhadap Islam muncul sejak awal
sejarah islam, dan para sufi yang mengembangkan jalan-jalan spiritual personal
mereka dengan melibatkan praktik-prektik ibadah, pembacaan kitab suci, dan
kepustakaan tentang kesalehan. Para sufi ini terkadang terlibat konflik dengan
otoritas-otoritas dalam komunitas islam dan memberikan alternative terhadap
orientasi yang lebih bersifat legalistik, yang disampaikan kebanyakan ulama.
Namun, para sufi secara bertahap menjadi figur-figur penting dalam kehidupan
keagamaan di kalangan penduduk awam dan mulai mengumpulkankelompok-kelompok
pengikut yang diidentifikasi dan diikat bersama oleh jalan tasawuf khusus
(tarekat) sang guru. Menjelang abad ke-12 M (ke-5 H), jalan-jalan ini mulai
menyediakan basis bagi kepengikutan yang lebih permanen, dan tarekat-tarekat
sufi pun muncul sebagai organisasi sosial utama dalam komunitas islam.
Pada awal kemunculannya, tarekat berkembang dari dua daerah, yaitu
khurasan (Iran) dan mesepotamia (Irak).
Pertumbuhan tarekat telah dimulai sejak abad ke-3 dan ke-4 H, namun
perkembangan dan kemajuannya terjadi pada abad ke-6 dan ke-7 H. Menurut Fata
(2011: 2) awal perkembangan tarekat yang mulai dikenal oleh kalangan banyak
adalah:
Tarekat telah dikenal di dunia Islam terutama di abad ke 12/13 M (6/7 H)
dengan hadirnya tarekat Qadiriyah yang didasarkan pada sang pendiri Abd Qadir
al-Jailani (1077-1166 M), seorang ahli fiqih Hanbalian yang memiliki pengalaman
mistik mendalam. Setelah al-Jilani wafat, ajaran-ajarannya dikembangkan oleh
anak-anaknya dan menyebar luas ke Asia Barat dan Mesir. Tarekat Qadiriyah ini
mengikuti corak tasawufnya al-Gazali, yaitu tasawuf suni.
Pada perkembangannya, kata tarekat mengalami pergeseran makna. Jika pada
awalnya tarekat berarti jalan yang ditempuh oleh seorang sufi dalam
memndekatkan diri kepada Allah maka pada tahap selanjutnya istilah tarekat
digunakan untuk menunjuk pada suatu metode psikologi yang dilakukan oleh guru
tasawuf (mursyid) kapada muridnya untuk mengenal tuhan secara mendalam.
Dari sinilah, terbentuklah suatu tarekat, dalam pengertian “jalan menuju
tuhan di bawah bimbingan seorang guru”. Setelah suatu tarekat memiliki anggota
yang cukup banyak maka tarekat tersebut kemudian dilembagakan dan menjadi
sebuah organisasi tarekat. Pada tahap ini, tarekat dimaknai sebagai “organisasi
sejumlah orang yang berusaha mengikuti kehidupan tasawuf”. Dengan demikian,
menurut Huda (2008: 63) di dunia islam dikenal beberapa tarekat besar, seperti
Tarekat Qadiriyah, Naqsabandiyah, Syathariyah, Sammaniyah, Khalwatiyah,
Tijaniyah, Idrisiyah, dan Rifaiyah.
Dilihat dari ajaran ortodoks Islam, menurut Huda (2008: 63) ada tarekat
yang dipandang sah (mu’tabarah) dan ada pula tarekat yang dianggap tidak sah
(ghair mu’tabarah). Penjelasan dari keduanya yaitu:
Suatu tarekat dianggap sah jika memiliki mata rantai (silsilah) yang
mutawatir sehingga amalan dalam tarekat tersebut dapat dipertanggungjawabkan
secara syari’at. Sebaliknya, jika suatu tarekat tidak memiliki mata rantai
(silsilah) yang mutawatir sehingga ajaran tarekat tersebut tidak dapat
dipertanggungjawabkan secara syari’at maka ia dianggap tidak memiliki dasar
keabsahan dan oleh karenanya disebut tarekat yang tidak sah (ghair
al-mu’tabarah).
Tarekat-tarekat di seluruh dunia islam mengambil beragam bentuk.
Rentangnya, mulai dari tarekat sederhana berupa serangkaian kegiatan ibadah
hingga organisasi antarwilayah yang amat besar dengan struktur yang diartikan
secara hati-hati.
Tarekat di Indonesia
Pertumbuhan dan perkembangan tarekat di Indonesia berjalan seiring
dengan perkembangannya di Negara-negara islam. Setiap putra Indonesia yang
kembali dari menuntut ilmu di Mekkah dapat dipastikan membawa ijazah dari
syaiknya untuk mengajarkan tarekat tertentu di Indonesia. Menurut Shihab (2009:
186) murid yang mengajarkan tarekat setelah berguru di mekkah mereka adalah:
Fansuri, adalah syaikh tarekat Qadiriyah; Al-Raniri adalah syaikh
tarekat Riffaiyah; ‘Abdul Al-Rouf Sinkel adalah syaikh tarekat Syattariyah; dan
Al-Palimbani adalah syaikh tarekat sammaniyah. Bahkan yang disebut terakhir
mengarang buku khusus yang menjelaskan kaidah dan syarat-syarat untuk menjadi
pengikut Sammaniyah. Mereka merupakan syaikh yang memperkenalkan
tarekat-tarekat tersebut di Indonesia.
Di antara tarekat-tarekat yang umumnya memperoleh simpati dan banyak
pendukungnya di Indonesia adalah tarekat Khalwatiyah, Syatariyah, Qadiriyah,
dan ‘Alawiyah.
Khalwatiyah kebanyakan pengikutnya berasal dari Sulawesi Selatan,
tarekat Syatariyah kebanyakan muridnya dari Sumatera Selatan, kamudian tarekat
Qadiriyah banyak tersebar di berbagai wilayah Indonesia, sementara itu tarekat
‘Alawiyah tersebar di Indonesia melalui keturunan ‘Alawiyyin dan
murid-muridnya.
Di samping itu, terdapat pula tarekat Naqsabandiyah yang merupakan
tarekat terbesar di Indonesia, Syadziliyah, Rifa’iyah, Idrisiyah, Sanusiyah,
Tijaniyah, dan Aidrusiyah.
Petunjuk tentang penyebaran dan diterimanya tarekat-tarekat ini oleh
masyarakat Indonesia adalah bahwa
kebanyakan ulama yang kembali dari Hijaz menganut tarekat tersebut dan
berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Oleh sebab itu, bentuk tarekat di Indonesia, seperti halnya di negeri
muslim, tidak lain merupakan kesinambungan dari tasawuf suni Al-Ghazali.
Selanjutnya, ada pula tarekat-tarekat yang bersifat lokal dalam arti
tidak berafeliasi kepada salah satu tarekat popular di negeri lain, seperti
tarekat Wahiddiyah dan Shiddiqiyah di Jawa Timur, tarekat Syahadatain di Jawa
Tengah, dan sebagainya.
2.4 Aliran – aliran Tarikat dalam Islam
1.
Tarekat Qadiriyah
Qadiriyah
didirikan oleh Abd Al-Qadir Jailani [470/1077-561/1166] atau quthb al-awiya. Ciri khas dari
Tarekat Qadiriyah ini adalah sifatnya yang luwes,tidak sempit sehingga tuan
syekh atau Syekh Mursyid yang baru dapat menentukan langkahnya menuju kehadirat
Allah SWT guna mendapat keridlaan-Nya. Keluwesan dan kemandirian inilah, yang
menyebabkan tarekat ini cepat berkembang di sebagian besar dunia Islam.
Terutama di Turki, Yaman, Mesir, India, Suria, Afrika dan termasuk ke
Indonesia.
2.
Syadziliyah
Tarekat Syadziliyah
didirikan oleh Abu Al-Hasan Asy-Syadzili [593/1196-656/1258]. Syadziliyah
menyebar luas di sebagian besar Dunia Muslim. Ia diwakili di Afrika Utara
teerutama oleh cabang-cabang Fasiyah dan Darqawiyah serta berkembang pesat di
Mesir, tempat 14 cabangnya dikenal secara resmi pada tahun 1985.
3.
Tarekat Naqsabandiyah
Tarekat
Naqsabandiyah didirikan oleh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandi Al-Awisi
Al-Bukhari [w. 1389M] di Turkistan. Tarekat ini mempunyai dampak dan pengaruh
sangat besar kepada masyarakat muslim di berbagai wilayah yang berbeda-beda.
Tarekat ini pertama kali berdiri di Asia Tengah, kemudian meluas ke Turki,
Suriah, Afganistan, dan India. Cirri menonjol Tarekat Naksabandiyah adalah :
Pertama, mengikuti syariat secara ketat, keseriusan dalam beribadah yang
menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, dan lebih menyukai berdzikir
dalam hati. Kedua, upaya yang serius dalam memengaruhi kehidupan dan pemikiran
golongan penguasa serta mendekati Negara pada agama.
4.
Tarekat Yasafiyah dan Khawajagawiyah
Tarekat Yasafiyah didirikan oleh Ahmad
Al-Yasafi [w. 562H/1169M] dan disusul tarekat Khawajagawiyah yang disponsori oleh Abd Al-Khaliq Al-Ghuzdawani
[w. 617 H/1220 M]. kedua tarekat ini menganut paham tasawuf Abu Yazid
Al-Bustami [w. 425 H/1034 M] dan dilanjutkan oleh Abu Al-Farmadhi [w. 477
H/1084 M]. Tarekat Yasafiyah berkembang ke berbagai daerah, antara lain ke
Turki.
5.
Tarekat Khalwatiyah
Tarekat ini
didirikan oleh Umar Al-Khalatawi [w. 1397 M] dan merupakan salah satu tarekat
yang berkembang di berbagai negeri, seperti Turki, Syiria, Mesir, Hijaz, dan
Yaman. Di Mesir, tarekat Khalwatiyah didirikan
oleh Ibrahim Gulsheini [w. 940 H/1534 M] yang kemudian terbagi kepada beberapa
cabang, antara lain tarekat Sammaniyah
yang didirikan oleh Muhammad bin Abd Al-Karim As-Samani [1718-1775].
6.
Tarekat Syatariyah
Tarekat ini
didirikan oleh Abdullah bin Syattar [w. 1485] dari India. Tarekat ini tidak
mementingkan shalat lima waktu, tetapi mementingkan shalat permanen [shalat dhaim]. Adapun dasar tarekat
ini adalah martabat tujuh yang sebenarnya tidak begitu erat hubungannya dengan
praktik ritualnya.
7.
Tarekat Rifa’iyah
Tarekat ini
didirikan oleh Ahmad bin Ali ar-Rifa’I [1106-1182]. Tarekat sufi Sunni ini
memainkan peranan penting dalam pelembagaan sufisme. Dari segala praktik kaum
Rifa’iyah, dzikir mereka yang khas patut dicatat.
8.
Tarekat Qadiriyah wa
Naqsabandiyah
Tarekat ini
merupakan gabungan dari dua ajaran tarekat, yaitu Qadiriyah dan Naqsabandiyah.
Tarekat ini didirikan oleh Ahmad Khatib Sambas yang bermukim dan mengajar di
Mekkah pada pertengahan abad ke-19. Tarekat ini merupakan yang paling
berpengaruh dan tersebar secara melua di Jawa saat ini.
9.
Tarekat Sammaniyah
Tarekat ini
didirikan oleh Muhammad bin ‘Abd Al-Karim Al-Madani Asy-Syafi’I As- Samman
[1130-1189/1718-1775]. Hal menarik dari tarekat ini yang menjadi ciri khasnya
adalah corak wahdat al-wujud yang
dianut dan syathahat yang
terucap olehnya tidak bertentangan dengan syariat.
10.
Tarekat Tijaniyah
Tarekat
Tijaniyah didirikan oleh Syekh Ahmad bin Muhammad At-Tijani [1150-1230
H/1737-1815 M]. Bentuk amalan tarekat Tijaniyah terdiri dari dua jenis,yaitu wirid wajibah dan wirid ikhtiyariyah.
11.
Tarekat Chistiyah
Chistiyah adalah salah satu tarekat sufi utama di Asia
Selatan. Tarekat ini meyebar ke seluruh kawasan yang kini merupakan wilayah
India, Pakista dan Banglades. Namun, tarekat ini hanya terkenal di India.
Pendiri tarekat ini di India adalah Khwajah Mu’in Ad-Din Hasan, yang lebih
populer dengan panggilan Mu’in Ad-Din Chisti.
12.
Tarekat Mawlawiyah
Nama Mawlawiyah berasal dari kata
“mawlana” [guru kami], yaitu gelar yang diberikan murid-muridnya kepada
Muhammad Jalal Ad-Din Ar-Rumi [w. 1273]. Oleh karena itu, Rumi adalah pendiri
tarekat ini, yang didirikan sekitar 15 tahun terakhir hidup Rumi. Salah satu mursyid sekaligus wakil yang terkenal
secara internasional dari tarekat ini adalah Syekh Al-Kabir Helminski yang
bermarkas di California, Amerika Serikat.
13.
Tarekat Ni’matullahi
Tarekat
Ni’matullahi adalah suatu mazhab sufi Persia yang segera setelah berdirinya dan
mulai berjaya pada abad ke-8-14 mengalihkan loyalitasnya kepada Syi’I Islam.
Tarekat ini didirikan oleh Syekh Ni’matullahi Wal. Tarekat ini secara khusus
menekankan pengabdian dalam pondok sufi itu sendiri.
14.
Tarekat Sanusiyah
Tarekat ini
didirikan oleh Sayyid Muhammad bin ‘Ali As-Sanusi. Dalam tarekat ini, dzikir
bisa dilakukan bersama-sama atau sendirian. Tujuan dzikir itu lebih dimaksudkan
untuk “melihat Nabi” ketimbang “melihat Tuhan”, sehingga tidak dikenal “keadaan
ekstatis”’ sebagaimana yang ada pada tarekat lain.
BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan
1.
Berdasarkan Uraian
sebelumnya dapat difahami bahwa TarekatALKlllllllll
sebanarnya telah ada Sejak munculnya Islam yakni tatkala Rasulullah
SAW melakukan Takhannus atau berkhalwat di Gua Hira. Apa yang
dilakukan Rasullah ini selain untuk mencari ketenangan hati dan
kebersihan jiwa juga yang terpenting adalah mendekatkan diri kepada
Allah SWT dengan khusyu. Sebagaimana pula halnya para penganut
Tarekat pada Umumnya yang berusaha memaknai hidup ini dengan
berusaha semaksimal mungkin mendekatkan diri kepada Allah SWT
melalui Tarekat.
sebanarnya telah ada Sejak munculnya Islam yakni tatkala Rasulullah
SAW melakukan Takhannus atau berkhalwat di Gua Hira. Apa yang
dilakukan Rasullah ini selain untuk mencari ketenangan hati dan
kebersihan jiwa juga yang terpenting adalah mendekatkan diri kepada
Allah SWT dengan khusyu. Sebagaimana pula halnya para penganut
Tarekat pada Umumnya yang berusaha memaknai hidup ini dengan
berusaha semaksimal mungkin mendekatkan diri kepada Allah SWT
melalui Tarekat.
2.
Banyaknya Tarekat-tarekat
yang tumbuh dan berkembang di Dunia
Islam (Dinasti-dinasti Islam di Persia atau Jazirah arab dan sekitarnya) berdampak pula dengan menyebarkan Tarekat-tarekat ini di Nusantara. Diantara Faktor yang menyebabkan cepatnya tarekat ini berkembang di Nusantara adalah karena jalur perdagangan melalui laut yang sudah lancer yang bisa menghubungkan satu daerah dengan daerah lain di Nusantara bahkan di Dunia, Faktor lainnya adalah adanya kesadaran Ulama-ulama Indonesia untuk mendalami ilmu agama khususnya di luar Nusantara seperti di Makkah.
Islam (Dinasti-dinasti Islam di Persia atau Jazirah arab dan sekitarnya) berdampak pula dengan menyebarkan Tarekat-tarekat ini di Nusantara. Diantara Faktor yang menyebabkan cepatnya tarekat ini berkembang di Nusantara adalah karena jalur perdagangan melalui laut yang sudah lancer yang bisa menghubungkan satu daerah dengan daerah lain di Nusantara bahkan di Dunia, Faktor lainnya adalah adanya kesadaran Ulama-ulama Indonesia untuk mendalami ilmu agama khususnya di luar Nusantara seperti di Makkah.
Tarekat
tidak bisa dibatasi dari aspek pemaknaan saja bersadarkan
pemahaman yang telah berkembang sebelumnya yakni bahwa Tarekat
merupakan jalan atau metode yang ditempuh untuk mendekatkan diri
sedekat mungkin dengan Allah SWT. Kenyataannya bahwa Tarekat itu memiliki makna lain yang bisa lebih spesifik misalnya Tarekat di maknai sebagai faham Mistik yang dapat mendatangkan kekuatan gaib dan semacamnya.
pemahaman yang telah berkembang sebelumnya yakni bahwa Tarekat
merupakan jalan atau metode yang ditempuh untuk mendekatkan diri
sedekat mungkin dengan Allah SWT. Kenyataannya bahwa Tarekat itu memiliki makna lain yang bisa lebih spesifik misalnya Tarekat di maknai sebagai faham Mistik yang dapat mendatangkan kekuatan gaib dan semacamnya.
Daftar Pustaka
Solihin, M. dan Rosihon Anwar, Ilmu
Tasawuf, pustaka setia, Bandung, 2008
http://mashajirismail.wordpress.com/2011/02/02/10/ (diakses pada
tanggal 3 Mei 2014)
http://id.wikipedia.org/wiki/Tarekat (diakses pada tanggal 3 Mei 2014)
http://galerymakalah.blogspot.com/2013/04/sejarah-dan-perkembangan-tarekat.html (diakses
pada tanggal 3 Mei 2014)
http://penyebarislam.blogspot.com/2012/11/pengertian-tarekat-dan-sejarah.html (diakses
pada tanggal 3 Mei 2014)
http://yuhazi.blogspot.com/2013/06/sejarah-dan-perkembangan-tarekat.html, (diakses pada tanggal 3 Mei 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar